Manusia lahir dimuka bumi ini adalah dalam rangka mengemban amanat atau sebagai utusan atau kholifah dimuka bumi ini.
Sedangkan manusia itu diciptakan oleh Tuhan terdiri dari dua unsur, yaitu Jasmani dan Rohani. penyatuan kedua unsur tersebut digambarkan dengan huruf Ho-No-Co-Ro-Ko, yaitu:
- Ho berarti Howo/hawa.
- No berarti Nafsu.
- Co berarti cipto/cipta.
- Ro berarti Roso/rasa.
- Ko berarti Karso/karsa.
Sedangkan dalam menjalankan tugasnya sebagai kholifah dimuka bumi ini manusia yang telah dikaruniai beberapa unsur tadi maka ia akan menjadi lebih sempurna dari makhluk lainya.
Akan tetapi manusia sering terpaku dan terlena dikarenakan unsur hawa nafsunya mendominasi unsur lainya, sehingga unsur cipta, rasa,dan karsanya lebih menuruti hawa dan nafsunya.
Dalam kondisi inilah manusia terpuruk dan akan selalu berbuat kerusakan.
Sehingga dalam menjalani hidupnya manusia sering tak pernah mengenal kesejatian dirinya, dalam arti ia lupa tugasnya sebagai kholifah atau utusan tuhan, yang tentu sesungguhnya ia harus tunduk dan patuh pada aturan-aturan tuhan.
Manusia menganggap bahwa seluruh karunia dalam dirinya adalah untuk memuaskan hasrat duniawinya, sehingga manusia berlomba-lomba untuk menggapai itu semua bahkan dengan jalan yang melanggar aturan tuhan.
Di sisi lain ada manusia yang dalam kondisi lemah, penuh kekurangan dan saling mengeluh akan nasibnya.
Mereka menganggap itu semua karena mereka tak mampu mengoptimalkan unsur-unsur yang ada, dan selalu bersusah payah mengejar ketertinggalan dari yang lain untuk masalah duniawi.
Sungguh mereka tak menyadari bahwa tugas manusia hidup adalah hanya huntuk menjaga karunia tuhan, mengabdi dan berserah diri.
Sedangkan untuk urusan hidup dan kebutuhan adalah urusan tuhan.
Memang sangat sulit di fahami karena kebanyakan dari manusia beranggapan bahwa dia dapat rezeki karena dia berusaha (cipta Karsa), Dan mereka tidak menyadari sesungguhnya tak ada gerak dan daya upaya tanpa campur tangan tuhan.
Do tan sawolo, Yang berarti apabila sudah saatnya maka manusia takkan bisa mengelak.
Maksudnya saat disini adalah, Saat tuhan berkehendak sesuatu terhadap manusia maupun alam ini, tak satupun manusia bisa mengelak.
Saat Tuhan berkehendak terhadap alam ini seperti terjadinya bencana, atau fenomena alam lainya, manusia takkan bisa menghentikanya.
Sedangkan saat tuhan berkehendak pada diri manusi, seperti misalnya Tuhan berkehendak manusia dalam duka atau mati, tak satupun manusia bisa menghindarinya.
Atau tuhan berkehendak sehat bagi yang sakit maka apapun akan bisa menjadi sebab untuk sembuhnya.
Atau tuhan menghendaki seseorang menjadi makmur atau dalam kejayaan dan kekayaan, maka apapun bisa menjadi sebab sehingga ia selalu dalam keberuntungan.
Atau saat tuhan berkehendak menyulitkan dan menyempitkan kehidupan seseorang maka sekuat apaun dia berusaha maka seperti dia selalu dalam apes dan tak pernah berhasil.
Dari uraian diatas bisa diambil sebuah kesimpulan bahwa semua yang terjadi di diri kita adalah kehendak tuhan.
Dan sesungguhnya walaupun beragamnya ujian yang mendera kehidupan seseorang namun secara hakiki sesungguhnya tidak pernah terjadi apa-apa.
Di ibaratkan sebuah wayang yang sedang dalam lakon yang dimainkan oleh sang dalang, yang pada akhirnya nanti akan dimasukkan kembali dalam kotak penyimpanan.
Karena disaat tuhan berkendak apapun pada diri kita maka sesungguhnya itu semua adalah hanya sebuah ujian bagi kita dalam rangka mengemban amanat sebagai kholifah di muka bumi ini. karena dibalik kesusahan pasti ada kemudahan.
Manusia yang mampu membawa unsur HO-NO-CO-RO-KO yang ada dalam dirinya sesuai kehendak tuhan, maka dia akan bisa dengan mudah menghayati dan menerapkan makna DO-TO-SO-WO-LO dalam hidupnya, sehingga dia akan menjadi pribadi yang tenang, ayem, tentrem, bahagia bebas dan merdeka.
Sama Jaya-nya atau sama menangnya, artinya disaat manusia telah mampu mendidik dirinya sehingga mampu mengenali dirinya yang terdiri dari unsur Hawa, nafsu, cipto, roso, karso ini Yang ahirnya dia bisa mencapai keadaan hati yang lebih tenang karena dia mengerti semua adalah kehendak tuhan, atau do-to-so-wo-lo.
maka sesungguhnya pada hakikinya dia akan memperoleh sebuah kemenangan. Namun menang bukan sekedar menang-menangan.
Artinya dia mungkin menurut para pemuja dunia seakan dia telah kalah karna tidak dalam kekayaan harta yang berlimpah, disebabkan jalan yang ia lalui adalah jalan yang damai aman bekerja jauh dari menipu, menindas dan jalan haram lainya.
Namun sesungguhnya dia telah merasakan lain dari yang orang lain tak mampu merasakanya yaitu rasa sebuah kebahagiaan.
Karena kebahagiaan bagi dia adalah dalam arti yang sangat dalam yaitu sebuah pengabdian pada tuhan bukan pada yang lainya.
Artinya manusia yang telah mampu mengenal dirinya dia akan mengenal siapa tuhanya. Dia akan mengabdikan dirinya hanya pada tuhan bukan pada hawa nafsu, jabatan, kekayaan atau kenikmatan duniawi.
Maka segala aktifitas dunianya tak lebih dari sekedar penghambaan kepada tuhan, dalam arti dia mematikan rasa keinginan duniawinya dan hanya hidup untuk tuhan. Atau disebut Mati sak jeroning aurip, lebur sak jeroning lali.
Dia hanya berharap hanya dari pertolongan tuhan bukan mengandalkan akal dan nafsiahnya atau bahasa jawanya mbathang (berserah diri).
Mbatang disini berarti lalu tidak berbuat apa-apa sama sekali, jasad yang telah diberikan kesempurnaan ia syukuri dengan menggunakanya dalam jalan yang di kehendaki tuhan dan untuk mencari fadhilahnya tuhan, bukan untuk menuruti hawa nafsunya.
Sumarah garising kodrat, Nadyan kalilan amiradati, total berserah diri kepada taqdir Alloh, walau sudah diikhlaskan tentang hidupnya namun berkewajiban meng ihtiyari.
Atau dia hanya sekedar meng ihtiyari sesuatu yang telah dijatahkan Alloh, tanpa dia mencari-cari perkara sehingga menyulitkan.
Manusia yang seperti ini biasanya batinnya sarat akan petunjuk Tuhan, seperti dia telah tahu apa yang harus ia jalankan. Yaitu karena kejernihan hatinya dalam menangkap sinyal yang diberikan Alloh.